Hasil ujian nasional tingkat SMA baru saja diumumkan 20 Mei yang lalu, Un tingkat SMA sendiri sudah dilaksanakan pada tanggal 14-16 April 2014. Hasil yang dilansir dari situs kemdiknas pertanggal 19 mei menyebutkan bahwa tingkat kelulusan mencapai 97 % untuk tingkat nasional. standart kelulusan adalah 5,5 dari hasil ujian nasional ditambah dengan nilai sekolah, yang rumusnya sudah ditentukan oleh kemdiknas, yakni 60 % Nilai UN + 40 % nilai Sekolah = Nilai Akhir yang akan di bawa untuk menentukan apakah siswa yang bersangkutan akan Lulus atau gagal.
Hasilnya memang dari seluruh peserta yang mengikuti ujian Nasional, ada sekitar 7.811 siswa yang dinyatakan gagal. dengan berbagai macam alasan.
ujian nasional yang dilakssanakan tiap tahunnya bertujuan untuk menilai kemampuan siswa dalam menyerap ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya selam 3 tahun, jadi menurut logika, sudah dipelajari koq ya nggak tahu, ini kan lucu...
dicarilah kambing hitam.. biasanya siswa yang tidak lulus adalah siswa yang berdomisili di daerah yang minim fasilitas. itulah dijadikan alasan, kemampuan siswa kota dan siswa pinggiran itu berbeda,,, katanya.
Pengalaman saya pribadi, di lapangan menunjukkan, kemauan siswa di daerah perkotaan untuk belajar masih jauh lebih tinggi daripada para siswa yang ada di daerah perbatasan atau pedesaan. siswa di daerah pinggiran biasanya terkondisikan, hanya asal sudah bisa mendapat ijazah. asal datang kesekolah, duduk, diam dan dengar, sudah cukup bagi mereka.
Rahasia umum yang sudah terjadi selama UN, dan pemerintah seolah menutup mata, kalau awalnya UN di sediakan dalam 2 paket agar siswa yang bersebelahan tidak memiliki soal yang sama, lalu berubah lagi menjadi 5 paket, lalu sekarang dalam satu ruang, tidak ada siswa yang soalnya sama, walau materi soal itu sama. namun seperti kata pepatah, sepandai-pandai kita menjaga harta kita,semakin lihai pula para pencuri untuk membongkar dan membawa lari harta yang kita miliki. ..... halahh, apa coba ini.. #kang_ganyambung.
Jadi sekarang yang perlu dievaluasi adalah sampai sejauh mana hasil UN dapat dikerjakan oleh peserta didik.
Kita tunggu saja apakah dengan masalah yang sudah semakin komplexs, apakah yang akan dilakukan oleh menteri pendidkan san kebudayaan dengan satu pertanyaan masih perlukah adanya UN??????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar